Thursday, 8 June 2017

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
aluhlangkar.blogspot.com/2008/10/ini-cerita-waktu-aku-terjun-ke-lapangan.html
Tatanjuk merupakan alat pertanian tradisional yang digunakan oleh masyarakat Banjar di wilayah Kalimantan Selatan. Alat ini digunakan untuk membuat lubang di tanah yang selanjutnya akan ditanami bibit padi. Tatanjuk digunakan pada lahan pertanian baik di dataran tinggi maupun dataran rendah.
Lahan pertanian berupa sawah dapat dibagi menjadi dua berdasarkan kondisi tinggi rendahnya dataran, yaitu sawah dataran tinggi dan sawah dataran rendah (Agus Triatno, ed. 1991/1992: 19). Perbedaan ketinggian di antara kedua lahan pertanian tersebut berpengaruh terhadap cara para petani menggarap sawah dan jenis peralatan yang digunakan.
Peralatan tatanjuk digunakan secara luas oleh masyarakat Banjar Batang Banyu di kawasan Hulu Sungai hingga saat ini. Ada sebagian masyarakat yang menyebut peralatan ini “tutujah” sementara sebagian yang lain memberikan nama “asak” (Ikhlas Budi Prayogo, 1998/1999: 11). Tatanjuk mempunyai fungsi sama dengan tutugal atau tugal dalam bahasa Indonesia. Kamus Bahasa Indonesia (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2008: 1552) mengartikan “tugal” sebagai tongkat kayu yang runcing untuk membuat lubang yang akan ditanami benih.
Bentuk dan cara penggunaan tatanjuk dan tutujah berbeda meskipun keduanya mempunyai fungsi yang serupa. Tutujah berupa batangan kayu sebesar genggaman tangan orang dewasa yang lurus dan bundar. Panjang alat ini antara 50 cm hingga 70 cm. Sementara itu, tatanjuk berukuran lebih pendek, sekitar 50 sampai 60 cm. Bentuk tatanjuk pun lebih variatif. Variasi bentuk tatanjuk pada umumnya terletak pada bagian hulu tatanjuk yang menjadi pegangan. Bentuk bagian ini pula yang menjadi dasar penamaan masing-masing tatanjuk, misalnya Tatanjuk Burung, Tatanjuk Wayang, Tatanjuk Purus “T”, Tatanjuk Ayam, dan sebagainya.
Bentuk dasar atau pola dasar tatanjuk sebenarnya sederhana. Peralatan ini hanya berupa batang kayu bundar yang bengkok atau dibengkokkan di bagian hulunya dan diruncingkan pada bagian ujungnya. Tatanjuk dengan bentuk seperti ini paling mudah dibuat karena tidak terlalu rumit dan tidak membutuhkan kecermatan yang tinggi dari pembuatnya. Tentu saja tatanjuk tampak kurang bernilai jika diukur dari nilai seni, kreativitas, dan keindahan.
Bentuk dasar tatanjuk, yang hanya seperti kayu bengkok itu, kemudian berkembang berbagai macam bentuk tatanjuk. Perkembangan bentuk tatanjuk dipengaruhi oleh budaya masyarakat setempat. <<selengkapnya>>

Thursday, June 08, 2017 Wahyudi Ariannor
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
aluhlangkar.blogspot.com/2008/10/ini-cerita-waktu-aku-terjun-ke-lapangan.html
Tatanjuk merupakan alat pertanian tradisional yang digunakan oleh masyarakat Banjar di wilayah Kalimantan Selatan. Alat ini digunakan untuk membuat lubang di tanah yang selanjutnya akan ditanami bibit padi. Tatanjuk digunakan pada lahan pertanian baik di dataran tinggi maupun dataran rendah.
Lahan pertanian berupa sawah dapat dibagi menjadi dua berdasarkan kondisi tinggi rendahnya dataran, yaitu sawah dataran tinggi dan sawah dataran rendah (Agus Triatno, ed. 1991/1992: 19). Perbedaan ketinggian di antara kedua lahan pertanian tersebut berpengaruh terhadap cara para petani menggarap sawah dan jenis peralatan yang digunakan.
Peralatan tatanjuk digunakan secara luas oleh masyarakat Banjar Batang Banyu di kawasan Hulu Sungai hingga saat ini. Ada sebagian masyarakat yang menyebut peralatan ini “tutujah” sementara sebagian yang lain memberikan nama “asak” (Ikhlas Budi Prayogo, 1998/1999: 11). Tatanjuk mempunyai fungsi sama dengan tutugal atau tugal dalam bahasa Indonesia. Kamus Bahasa Indonesia (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2008: 1552) mengartikan “tugal” sebagai tongkat kayu yang runcing untuk membuat lubang yang akan ditanami benih.
Bentuk dan cara penggunaan tatanjuk dan tutujah berbeda meskipun keduanya mempunyai fungsi yang serupa. Tutujah berupa batangan kayu sebesar genggaman tangan orang dewasa yang lurus dan bundar. Panjang alat ini antara 50 cm hingga 70 cm. Sementara itu, tatanjuk berukuran lebih pendek, sekitar 50 sampai 60 cm. Bentuk tatanjuk pun lebih variatif. Variasi bentuk tatanjuk pada umumnya terletak pada bagian hulu tatanjuk yang menjadi pegangan. Bentuk bagian ini pula yang menjadi dasar penamaan masing-masing tatanjuk, misalnya Tatanjuk Burung, Tatanjuk Wayang, Tatanjuk Purus “T”, Tatanjuk Ayam, dan sebagainya.
Bentuk dasar atau pola dasar tatanjuk sebenarnya sederhana. Peralatan ini hanya berupa batang kayu bundar yang bengkok atau dibengkokkan di bagian hulunya dan diruncingkan pada bagian ujungnya. Tatanjuk dengan bentuk seperti ini paling mudah dibuat karena tidak terlalu rumit dan tidak membutuhkan kecermatan yang tinggi dari pembuatnya. Tentu saja tatanjuk tampak kurang bernilai jika diukur dari nilai seni, kreativitas, dan keindahan.
Bentuk dasar tatanjuk, yang hanya seperti kayu bengkok itu, kemudian berkembang berbagai macam bentuk tatanjuk. Perkembangan bentuk tatanjuk dipengaruhi oleh budaya masyarakat setempat. <<selengkapnya>>

Thursday, 6 April 2017

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
Beberapa foto dan video yang penulis ambil dari berbagai sumber pada peringatan haul ke-12 Abah Guru Sekumpul (Asy-Syaikh Muhammad Zaini Abdul Ghoni Al-Banjari). Saya selaku admin Lisan Al-Faqir memohon maaf, minta halal dan ridho dari pemilik foto-foto atau video yang saya unggah di sini.










 


Thursday, April 06, 2017 Wahyudi Ariannor
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
Beberapa foto dan video yang penulis ambil dari berbagai sumber pada peringatan haul ke-12 Abah Guru Sekumpul (Asy-Syaikh Muhammad Zaini Abdul Ghoni Al-Banjari). Saya selaku admin Lisan Al-Faqir memohon maaf, minta halal dan ridho dari pemilik foto-foto atau video yang saya unggah di sini.










 


Saturday, 1 April 2017

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
Saya selaku admin dari Lisan Al-Faqir.com mengucapkan selamat memperingati haul ke-12 Asy-Syaikh Al-Mukarram KH. Muhammad Zaini Abdul Ghoni Al-Banjari atau Abah Guru Sekumpul dan selamat datang para jemaah di Martapura Kalimantan Selatan.

Saturday, April 01, 2017 Wahyudi Ariannor
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
Saya selaku admin dari Lisan Al-Faqir.com mengucapkan selamat memperingati haul ke-12 Asy-Syaikh Al-Mukarram KH. Muhammad Zaini Abdul Ghoni Al-Banjari atau Abah Guru Sekumpul dan selamat datang para jemaah di Martapura Kalimantan Selatan.

Friday, 17 March 2017

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
Museum Wasaka adalah salah satu museum parjuangan rakyat Banua Banjar yang terletak di Gang H. Andir, Kampung Kenanga Ulu, Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin (Google Maps). Museum ini terletak di pinggir Sungai Martapura di bawah jembatan Banua Anyar. Wasaka singkatan dari Waja Sampai Ka Puting yang marupakan motto perjuangan rakyat Kalimantan Salatan.
Museum Wasaka diresmikan tanggal 10 November 1991 oleh gubernur Kalsel saat itu Ir. H. Muhammad Said, bertempat pada rumah Banjar Bubungan Tinggi yang dialihfungsikan dari hunian jadi museum sabagai upaya konservasi bangunan tradisional.
Ada kurang lebih 400 benda bersejarah di museum ini terutama yang berkaitan dengan sejarah perjuangan rakyat Banua Banjar seperti daftar organisasi yang pernah berjuang menantang penjajah misalnya Laskar Hasbullah yang bermarkas di Martapura dan Barisan Pemuda Republik Indonesia Kalimantan yang bermarkas di Banjarmasin.

sumber : http://pulaubanuabanjar.com/index.php/tulisan/baca/11/Malihati-Sejarah-Perjuangan-Rakyat-Banjar-di-Musium-Wasaka (dipetik 17-03-2017 10:27 WITA)
Friday, March 17, 2017 Wahyudi Ariannor
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
Museum Wasaka adalah salah satu museum parjuangan rakyat Banua Banjar yang terletak di Gang H. Andir, Kampung Kenanga Ulu, Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin (Google Maps). Museum ini terletak di pinggir Sungai Martapura di bawah jembatan Banua Anyar. Wasaka singkatan dari Waja Sampai Ka Puting yang marupakan motto perjuangan rakyat Kalimantan Salatan.
Museum Wasaka diresmikan tanggal 10 November 1991 oleh gubernur Kalsel saat itu Ir. H. Muhammad Said, bertempat pada rumah Banjar Bubungan Tinggi yang dialihfungsikan dari hunian jadi museum sabagai upaya konservasi bangunan tradisional.
Ada kurang lebih 400 benda bersejarah di museum ini terutama yang berkaitan dengan sejarah perjuangan rakyat Banua Banjar seperti daftar organisasi yang pernah berjuang menantang penjajah misalnya Laskar Hasbullah yang bermarkas di Martapura dan Barisan Pemuda Republik Indonesia Kalimantan yang bermarkas di Banjarmasin.

sumber : http://pulaubanuabanjar.com/index.php/tulisan/baca/11/Malihati-Sejarah-Perjuangan-Rakyat-Banjar-di-Musium-Wasaka (dipetik 17-03-2017 10:27 WITA)

Thursday, 23 February 2017

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Pesan dari panitia haul ke'12 abah guru sekumpul martapura
السّـلام عليْـكم ورحْمـةاللّہ وبركـاتہ
بِسْــــمِ اللّہ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Insya Allah Pada Hari Minggu Tgl.02.April.2017. Bertepatan Hari Ahad 5 Rajab Ba'da Magrib "Haul Akbar l-'Allimul 'Allamah Al-'Arif Billah KH.Muhammad Zaini Bin Abdul Ghoni ( Abah Guru Sekumpul ) Yang Ke_12 Di Martapura, Kabupaten Banjar.  Sebelumnya Kami Menghimbau Kepada Seluruh Masyarakat Yang Berada Di Kalsel Maupun Di Luar Daerah, Agar Berhati-Hati Terhadap Oknum Yang Tidak Bertanggung Jawab Yang Mengatas Namakan Panitia Haul Abah Guru Sekumpul di Martapura-Kab.Banjar (Kalsel). Karena Warga Musholla Ar-Raudhah Sekumpul Dan Sekitar_Nya, Setiap Tahun Mengadakan Haul Tersebut Tidak Pernah Meminta Bantuan Atau Sumbangan, Baik Berupa Amplop Ataupun Dalam Bentuk Apapun!!!
Jika Ada Menemukan Oknum Yg Meminta-Minta Akan Berurusan Dg Badan Hukum !
-Karena ABAH GURU Pun Pernah Berkata di_Pengajian, Kata ABAH GURU : Kalau Mau Menghauli Aku Tapi DanaNya Minta-Minta Sumbangan, Maka Lebih Baik Aku Tidak di_Hauli !!!
Demikianlah ini Kami Sampaikan Kepada Seluruh Jemaah Abah Guru Sekumpul Seluruh Indonesia.
-Insya Allah... Himbauan Ini Akan Kami Bc Kan Terus Hingga Jelang Haul.
Mudah"n kita berata'an di berikan ksehatan dan k'afiyat'n bibarkati Rosulillah.. wa bibarkati Abah guru sekumpul,aamiin.



sumber: https://www.facebook.com/groups/parapencinta.abahguru/permalink/1097532820374715/?match=cGFuaXRpYQ%3D%3D (dipetik 23-02-2017 11:04 wita)
Thursday, February 23, 2017 Wahyudi Ariannor
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Pesan dari panitia haul ke'12 abah guru sekumpul martapura
السّـلام عليْـكم ورحْمـةاللّہ وبركـاتہ
بِسْــــمِ اللّہ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Insya Allah Pada Hari Minggu Tgl.02.April.2017. Bertepatan Hari Ahad 5 Rajab Ba'da Magrib "Haul Akbar l-'Allimul 'Allamah Al-'Arif Billah KH.Muhammad Zaini Bin Abdul Ghoni ( Abah Guru Sekumpul ) Yang Ke_12 Di Martapura, Kabupaten Banjar.  Sebelumnya Kami Menghimbau Kepada Seluruh Masyarakat Yang Berada Di Kalsel Maupun Di Luar Daerah, Agar Berhati-Hati Terhadap Oknum Yang Tidak Bertanggung Jawab Yang Mengatas Namakan Panitia Haul Abah Guru Sekumpul di Martapura-Kab.Banjar (Kalsel). Karena Warga Musholla Ar-Raudhah Sekumpul Dan Sekitar_Nya, Setiap Tahun Mengadakan Haul Tersebut Tidak Pernah Meminta Bantuan Atau Sumbangan, Baik Berupa Amplop Ataupun Dalam Bentuk Apapun!!!
Jika Ada Menemukan Oknum Yg Meminta-Minta Akan Berurusan Dg Badan Hukum !
-Karena ABAH GURU Pun Pernah Berkata di_Pengajian, Kata ABAH GURU : Kalau Mau Menghauli Aku Tapi DanaNya Minta-Minta Sumbangan, Maka Lebih Baik Aku Tidak di_Hauli !!!
Demikianlah ini Kami Sampaikan Kepada Seluruh Jemaah Abah Guru Sekumpul Seluruh Indonesia.
-Insya Allah... Himbauan Ini Akan Kami Bc Kan Terus Hingga Jelang Haul.
Mudah"n kita berata'an di berikan ksehatan dan k'afiyat'n bibarkati Rosulillah.. wa bibarkati Abah guru sekumpul,aamiin.



sumber: https://www.facebook.com/groups/parapencinta.abahguru/permalink/1097532820374715/?match=cGFuaXRpYQ%3D%3D (dipetik 23-02-2017 11:04 wita)

Tuesday, 27 December 2016

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
Peran dan eksistensi warga Kalimantan Selatan (Banjar) di Daerah Istimewa Yogyakarta sangat besar. Sejak sebelum kemerdekaan, di masa revolusi perjuangan fisik, warga Kalimantan telah mempunyai “Laskar Kalimantan” dan kegiatan-kegiatan lainnya, misalnya di bidang ekonomi dengan usaha batu mulia dan logam mulia, serta perlaksanaan dan pengembangan pendidikan agama dan budaya, seperti seni baca (tilawah) Al Quran, seni Hadrah, dan seni bela diri (kuntaw).
Untuk menampung kegiatan-kegiatan tersebut, komunitas Kalimantan Selatan (Banjar) memohon kepada Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebidang tanah di kawasan Malioboro untuk dibangun sebuah tempat ibadah dan aktivitas lainnya.
Pada tahun 1940, permohonan komunitas Kalimantan Selatan (Banjar) untuk membangun tempat ibadah di kawasan Kampung Menduran disetujui Sri Sultan Hamengkubuwono IX dengan diberikannya tanah seluas 958 m2, yang berada di sudut Jalan Suryatmajan di sebelah selatan dan Jalan Mataram di sebeblah timur (berdasarkan surat “Kekancingan” yang diperbaharui tanggal 22 Mei 2006, dan ditandatangani oleh KGPH Hadiwinoto selaku Pengageng Kawedanan Punokawan Wahono Sarto Kriyo Karaton Ngayogyakarta). Jarak lokasi ini dengan Jalan Malioboro hanya 300 meter.
Setelah melalui beberapa persiapan, maka pada tahun 1943 dibangunlah sebuah surau (langgar) yang dipelopori oleh Bpk. H. Hasan, Bpk. H. Abd. Samad dan Bpk. H. Bakri yang kemudian diberi nama “Langgar Kalimantani”, di Kampung Menduran, Yogyakarta.
Dalam perkembangannya, “Langgar Kalimantani” tidak lagi menampung kegiatan-kegiatan yang ada, baik untuk ibadah, pendidikan agama, sosial, ekonomi dan budaya. Langgar Kalimantani kemudian diperluas, dan selanjutnya diresmikan menjadi “Masjid Quwwatul Islam” pada hari Rabu (malam Kamis) tanggal 8 April 1953 / 25 Rajab 1372 H dalam peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW.
Pengurus masjid pada saat itu adalah: 1) Bpk. H. Hasan; 2) Bpk. H. Bakri; 3) Bpk. H. Muhammad; 4) Bpk. H. M. Sa’dun; 5) Bpk. M. Zaini, serta tokoh masyarakat Banjar saat itu, yaitu: 1) Bpk. KH. Mussadad dan 2) Bpk. H. Muh. Djazim Hamidi.

sumber : http://masjidquwwatulislam.org/selayang-pandang/ (dipetik : 27-12-2016 09:11 wita)
Tuesday, December 27, 2016 Wahyudi Ariannor
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
Peran dan eksistensi warga Kalimantan Selatan (Banjar) di Daerah Istimewa Yogyakarta sangat besar. Sejak sebelum kemerdekaan, di masa revolusi perjuangan fisik, warga Kalimantan telah mempunyai “Laskar Kalimantan” dan kegiatan-kegiatan lainnya, misalnya di bidang ekonomi dengan usaha batu mulia dan logam mulia, serta perlaksanaan dan pengembangan pendidikan agama dan budaya, seperti seni baca (tilawah) Al Quran, seni Hadrah, dan seni bela diri (kuntaw).
Untuk menampung kegiatan-kegiatan tersebut, komunitas Kalimantan Selatan (Banjar) memohon kepada Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebidang tanah di kawasan Malioboro untuk dibangun sebuah tempat ibadah dan aktivitas lainnya.
Pada tahun 1940, permohonan komunitas Kalimantan Selatan (Banjar) untuk membangun tempat ibadah di kawasan Kampung Menduran disetujui Sri Sultan Hamengkubuwono IX dengan diberikannya tanah seluas 958 m2, yang berada di sudut Jalan Suryatmajan di sebelah selatan dan Jalan Mataram di sebeblah timur (berdasarkan surat “Kekancingan” yang diperbaharui tanggal 22 Mei 2006, dan ditandatangani oleh KGPH Hadiwinoto selaku Pengageng Kawedanan Punokawan Wahono Sarto Kriyo Karaton Ngayogyakarta). Jarak lokasi ini dengan Jalan Malioboro hanya 300 meter.
Setelah melalui beberapa persiapan, maka pada tahun 1943 dibangunlah sebuah surau (langgar) yang dipelopori oleh Bpk. H. Hasan, Bpk. H. Abd. Samad dan Bpk. H. Bakri yang kemudian diberi nama “Langgar Kalimantani”, di Kampung Menduran, Yogyakarta.
Dalam perkembangannya, “Langgar Kalimantani” tidak lagi menampung kegiatan-kegiatan yang ada, baik untuk ibadah, pendidikan agama, sosial, ekonomi dan budaya. Langgar Kalimantani kemudian diperluas, dan selanjutnya diresmikan menjadi “Masjid Quwwatul Islam” pada hari Rabu (malam Kamis) tanggal 8 April 1953 / 25 Rajab 1372 H dalam peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW.
Pengurus masjid pada saat itu adalah: 1) Bpk. H. Hasan; 2) Bpk. H. Bakri; 3) Bpk. H. Muhammad; 4) Bpk. H. M. Sa’dun; 5) Bpk. M. Zaini, serta tokoh masyarakat Banjar saat itu, yaitu: 1) Bpk. KH. Mussadad dan 2) Bpk. H. Muh. Djazim Hamidi.

sumber : http://masjidquwwatulislam.org/selayang-pandang/ (dipetik : 27-12-2016 09:11 wita)

Friday, 9 December 2016

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
Dari beberapa referensi pustaka diketahui bahwa nasi Astakona berasal dari tradisi Kesultanan Banjar yang disajikan untuk upacara menerima tamu kehormatan, namun pada kurun waktu selanjutnya disajikan dalam acara badadapatan dan perkawinan.
Foto : Pulau Banua Banjar
Nasi Astakona memiliki makna yang penting karena disajikan dalam bedadapatan sebagai simbol keakraban dan lambang penghormatan bagi tetamu. Melalui sajian nasi astakona dimaknai persahabatan dan keakraban semakin terjalin. Malah, menurut refrensi tersebut dikatakan bahwa nasi astakona juga disajikan dalam acara walimah perkawinan sebagai simbol suasana akrab antara kedua mempelai dan keluarganya. Nasi astakona disajikan dengan talam dalam bentuk 3 atau 5 tingkatan ganjil yang bermakna 3 komponen pokok yaitu nasi dari beras atau padi yang tumbuh di tanah, lauk pauk dari ikan yang hidup di air dan buah-buahan yang tinggi di udara yang menggambarkan keterikatan hidup manusia dengan tanah, air dan udara.
Penyajian nasi astakona juga dilengkapi dengan sebuah tempat sirih atau bagi urang banjar disebut penginangan, manisan atau asinan sebagai kudapan yang disukai semua orang serta teh manis juga kopi pahit.
Jadi, nasi astakona bukan berbentuk tumpeng sebagaimana dikenal dalam tradisi ruwatan masyarakat Jawa dan Sunda. Nasi astakona adalah kuliner khas dengan bahan utama nasi (kuning atau putih) dengan lauk pauknya di atas talam kuningan bundar. Pada tingkatan talam pertama di bawah, ada nasi balamak dengan iwak rabuk, telur dadar, ketimun, bawang dan lombok goreng. Kemudian tingkatan talam kedua di tengah berisi nasi kuning dengan sajian udang goreng, telur bumbu rujak, acar manis, sambal goreng daging dengan kentang. Sementara tingkatan talam ketiga pada puncaknya, berisi seekor ayam panggang dan kuahnya serta hiasan timun dan lombok segar.

sumber:  http://www.handilbakti.com/2013/01/nasi-tumpeng-astakona.html (dipetik : 06-12-2016 10:35 WITA)
Friday, December 09, 2016 Wahyudi Ariannor
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
Dari beberapa referensi pustaka diketahui bahwa nasi Astakona berasal dari tradisi Kesultanan Banjar yang disajikan untuk upacara menerima tamu kehormatan, namun pada kurun waktu selanjutnya disajikan dalam acara badadapatan dan perkawinan.
Foto : Pulau Banua Banjar
Nasi Astakona memiliki makna yang penting karena disajikan dalam bedadapatan sebagai simbol keakraban dan lambang penghormatan bagi tetamu. Melalui sajian nasi astakona dimaknai persahabatan dan keakraban semakin terjalin. Malah, menurut refrensi tersebut dikatakan bahwa nasi astakona juga disajikan dalam acara walimah perkawinan sebagai simbol suasana akrab antara kedua mempelai dan keluarganya. Nasi astakona disajikan dengan talam dalam bentuk 3 atau 5 tingkatan ganjil yang bermakna 3 komponen pokok yaitu nasi dari beras atau padi yang tumbuh di tanah, lauk pauk dari ikan yang hidup di air dan buah-buahan yang tinggi di udara yang menggambarkan keterikatan hidup manusia dengan tanah, air dan udara.
Penyajian nasi astakona juga dilengkapi dengan sebuah tempat sirih atau bagi urang banjar disebut penginangan, manisan atau asinan sebagai kudapan yang disukai semua orang serta teh manis juga kopi pahit.
Jadi, nasi astakona bukan berbentuk tumpeng sebagaimana dikenal dalam tradisi ruwatan masyarakat Jawa dan Sunda. Nasi astakona adalah kuliner khas dengan bahan utama nasi (kuning atau putih) dengan lauk pauknya di atas talam kuningan bundar. Pada tingkatan talam pertama di bawah, ada nasi balamak dengan iwak rabuk, telur dadar, ketimun, bawang dan lombok goreng. Kemudian tingkatan talam kedua di tengah berisi nasi kuning dengan sajian udang goreng, telur bumbu rujak, acar manis, sambal goreng daging dengan kentang. Sementara tingkatan talam ketiga pada puncaknya, berisi seekor ayam panggang dan kuahnya serta hiasan timun dan lombok segar.

sumber:  http://www.handilbakti.com/2013/01/nasi-tumpeng-astakona.html (dipetik : 06-12-2016 10:35 WITA)

Saturday, 26 November 2016

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

KH. Idham Chalid lahir pada tanggal 27 Agustus 1922 di Satui, kab. Tanah Bumbu, bagian tenggara Kalimantan Selatan, dan merupakan anak sulung dari lima bersaudara. Ayahnya H Muhammad Chalid, penghulu asal Amuntai, Hulu Sungai Utara, sekitar 200 kilometer dari Banjarmasin.
Saat usia Idham enam tahun, keluarganya hijrah ke Amuntai dan tinggal di daerah Tangga Ulin, kampung halaman leluhur ayahnya.
Selain tercatat sebagai salah satu tokoh besar bangsa ini pada zaman Orde Lama maupun Orde Baru, sebagian besar kiprah Idham dihabiskan di lingkungan Nahdlatul Ulama. Beliau tercatat sebagai tokoh paling muda sekaligus paling lama memimpin ormas Islam yang didirikan para ulama pada tahun 1926 tersebut.
Dalam ormas berlogo bola dunia dan bintang sembilan itu, Idham menapaki karier yang sangat cemerlang hingga menjadi pucuk pimpinan. Dalam usia 34 tahun, Idham dipercaya menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Jabatan tersebut diembannya selama 28 tahun, yaitu hingga tahun 1984. Pada tahun 1984, posisi Idham di PBNU digantikan oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang ditandai dengan fase Khittah 1926 atau NU kembali menegaskan diri sebagai ormas yang tidak terlibat politik praktis serta tidak berafiliasi terhadap partai mana pun.
Selain itu, beliau juga tercatat sebagai “Bapak” pendiri Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Setelah tidak berkiprah di panggung politik praktis yang telah membesarkan namanya, waktu Idham dihabiskan bersama keluarga dengan mengelola Pesantren Daarul Maarif di bilangan Cipete.
Semasa hidupnya, KH Idham Chalid selalu memperjuangkan idealismenya bagi kemajuan bangsa dan negara tanpa meninggalkan posisi dirinya sebagai seorang kiai. Di tengah himpitan situasi politik terutama masa Orde Baru, dia memerankan diri sebagai politisi ulung namun tetap kukuh sebagai seorang kiai.
“Dia tidak meninggalkan jati diri sebagai ulama NU. Hal ini karena dia berpolitik dilandasi ketekunan menjalankan ibadah,” lanjut Gus Yusuf.
Karena itu, Gus Yusuf tak ragu menyebut beliau sebagai pribadi yang seimbang antara kepentingan rohani dengan duniawi. “Tidak seperti politikus saat ini yang sibuk dengan urusan-urusan politik tetapi tidak menjalankan secara konsekuen ibadahnya,” kritik tokoh seniman Komunitas Lima Gunung Magelang ini. (jamaahhsu2010.blogspot.co.id)
Dari kecil beliau dikenal cerdas dan berani. Ketika masuk sekolah rakyat (SR) beliau langsung duduk di kelas 2 dan bakat berpidato beliau mulai terlihat. Keahlian berorasi itulah yang menjadi cikal bakal beliau dalam meniti karir di jagat politik.
Setelah tamat SR, beliau melanjutkan pendidikan ke Madrasah Ar-Rasyidiyyah. Beliau yang saat itu masih tumbuh untuk mencari ilmu, mendapat banyak kesempatan untuk medalami Bahasa Arab, Bahasa Inggris dan ilmu pengetahuan umum. Kemudian beliau melanjutkan pendidikan ke Pesantren Gontor di Ponorogo, Jawa Timur. Kesempatan belajar di Gontor juga dimanfaatkan belliau untuk mendalami bahasa Jepang, Jerman dan Perancis.
Beliau meninggal pagi hari tanggal 11 Juli 2010, beliau meninggal dan dimakamkan di Pesantren Darul Qur'an, Cisarua, Bogor. Beliau meninggalkan 16 anak dan 40 cucu. Putra beliau, Saiful Hadi sekarang menjabat sebagai direktur kantor berita ANTARA dan putra beliau Ainul Hadi pernah menjadi Bupati HSU.
Setahun kemudian, beliau dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, bersama dengan 6 tokoh lain, berdasarkan Keppres Nomor 113/TK/Tahun 2011 tanggal 7 Nopember 2011. Beliau adalah orang Banjar ketiga yang menjadi Pahlawan Nasional setelah Pangeran Antasari dan Hasan Basry.
- dipetik tanggal 26-11-2016 pukul 09:26 WITA.
Saturday, November 26, 2016 Wahyudi Ariannor
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

KH. Idham Chalid lahir pada tanggal 27 Agustus 1922 di Satui, kab. Tanah Bumbu, bagian tenggara Kalimantan Selatan, dan merupakan anak sulung dari lima bersaudara. Ayahnya H Muhammad Chalid, penghulu asal Amuntai, Hulu Sungai Utara, sekitar 200 kilometer dari Banjarmasin.
Saat usia Idham enam tahun, keluarganya hijrah ke Amuntai dan tinggal di daerah Tangga Ulin, kampung halaman leluhur ayahnya.
Selain tercatat sebagai salah satu tokoh besar bangsa ini pada zaman Orde Lama maupun Orde Baru, sebagian besar kiprah Idham dihabiskan di lingkungan Nahdlatul Ulama. Beliau tercatat sebagai tokoh paling muda sekaligus paling lama memimpin ormas Islam yang didirikan para ulama pada tahun 1926 tersebut.
Dalam ormas berlogo bola dunia dan bintang sembilan itu, Idham menapaki karier yang sangat cemerlang hingga menjadi pucuk pimpinan. Dalam usia 34 tahun, Idham dipercaya menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Jabatan tersebut diembannya selama 28 tahun, yaitu hingga tahun 1984. Pada tahun 1984, posisi Idham di PBNU digantikan oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang ditandai dengan fase Khittah 1926 atau NU kembali menegaskan diri sebagai ormas yang tidak terlibat politik praktis serta tidak berafiliasi terhadap partai mana pun.
Selain itu, beliau juga tercatat sebagai “Bapak” pendiri Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Setelah tidak berkiprah di panggung politik praktis yang telah membesarkan namanya, waktu Idham dihabiskan bersama keluarga dengan mengelola Pesantren Daarul Maarif di bilangan Cipete.
Semasa hidupnya, KH Idham Chalid selalu memperjuangkan idealismenya bagi kemajuan bangsa dan negara tanpa meninggalkan posisi dirinya sebagai seorang kiai. Di tengah himpitan situasi politik terutama masa Orde Baru, dia memerankan diri sebagai politisi ulung namun tetap kukuh sebagai seorang kiai.
“Dia tidak meninggalkan jati diri sebagai ulama NU. Hal ini karena dia berpolitik dilandasi ketekunan menjalankan ibadah,” lanjut Gus Yusuf.
Karena itu, Gus Yusuf tak ragu menyebut beliau sebagai pribadi yang seimbang antara kepentingan rohani dengan duniawi. “Tidak seperti politikus saat ini yang sibuk dengan urusan-urusan politik tetapi tidak menjalankan secara konsekuen ibadahnya,” kritik tokoh seniman Komunitas Lima Gunung Magelang ini. (jamaahhsu2010.blogspot.co.id)
Dari kecil beliau dikenal cerdas dan berani. Ketika masuk sekolah rakyat (SR) beliau langsung duduk di kelas 2 dan bakat berpidato beliau mulai terlihat. Keahlian berorasi itulah yang menjadi cikal bakal beliau dalam meniti karir di jagat politik.
Setelah tamat SR, beliau melanjutkan pendidikan ke Madrasah Ar-Rasyidiyyah. Beliau yang saat itu masih tumbuh untuk mencari ilmu, mendapat banyak kesempatan untuk medalami Bahasa Arab, Bahasa Inggris dan ilmu pengetahuan umum. Kemudian beliau melanjutkan pendidikan ke Pesantren Gontor di Ponorogo, Jawa Timur. Kesempatan belajar di Gontor juga dimanfaatkan belliau untuk mendalami bahasa Jepang, Jerman dan Perancis.
Beliau meninggal pagi hari tanggal 11 Juli 2010, beliau meninggal dan dimakamkan di Pesantren Darul Qur'an, Cisarua, Bogor. Beliau meninggalkan 16 anak dan 40 cucu. Putra beliau, Saiful Hadi sekarang menjabat sebagai direktur kantor berita ANTARA dan putra beliau Ainul Hadi pernah menjadi Bupati HSU.
Setahun kemudian, beliau dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, bersama dengan 6 tokoh lain, berdasarkan Keppres Nomor 113/TK/Tahun 2011 tanggal 7 Nopember 2011. Beliau adalah orang Banjar ketiga yang menjadi Pahlawan Nasional setelah Pangeran Antasari dan Hasan Basry.
- dipetik tanggal 26-11-2016 pukul 09:26 WITA.

Saturday, 29 October 2016

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
Tugu Bundaran Kota Banjarbaru
Wilayah Banjarbaru sekarang, dulunya adalah perbukitan di pinggiran Kota Martapura yang dikenal dengan nama Gunung Apam. Daerah Gunung Apam dikenal sebagai daerah persitirahatan buruh-buruh penambang intan selepas menambang di Cempaka.
Pada era tahun 1950-an, Gubernur dr. Murdani dibantu seorang perencana Van der Pijl merancang Banjarbaru sebagai Ibukota Provinsi Kalimantan. Namun pada perjalanan selanjutnya, perencanaan ini terhenti sampai pada perubahan status Kota Banjarbaru menjadi Kota Administratif.
Nama banjarbaru sedianya hanyalah nama sementara yang diberikan Gubernur dr. Murjani, untuk membedakan dengan Kota Banjarmasin, yaitu kota baru di Banjar. Namun akhirnya melekat nama Banjarbaru sampai sekarang.
Sebagai kota administratif, Kota Banjarbaru berada dalam lingkungan Kabupaten Banjar, dengan ibukotanya Martapura. Jadi Kota Banjarbaru merupakan pemekaran dari Kabupaten Banjar.
Kota Banjarbaru berdiri berdasarkan Undang-undang (UU) Nomor 9 Tahun 1999. Lahirnya UU tersebut menandai berpisahnya Kota Banjarbaru dari Kabupaten Banjar yang selama ini merupakan daerah administrasi induk. Kota Banjarbaru yang sebelumnya berstatus sebagai Kota Administratif, sempat berpredikat sebagai kota administratif tertua di Indonesia.
Lambang Kota Banjarbaru

Kini, jumlah penduduk di Kota Banjarbaru terus berkembang dengan adanya perpindahan penduduk dari luar Kota Banjarbaru, baik dari Kalimantan sendiri maupun dari luar Kalimantan. Perkembangan penduduk ini beriringan dengan semakin terbukanya wilayah Kota Banjarbaru, baik untuk kawasan permukiman serta Bandar Udara Syamsudin Noor maupun peruntukan yang lain.
- Gunung Apam termasuk wilayah Kampung Guntung Payung, Kampung Jawa, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar.
- 1951, Gubernur dr. Murdjani menyampaikan usulan untuk merancang Gunung Apam menjadi Kota Banjarbaru sebagai calon Ibukota Provinsi Kalimantan.
-1953, pembangunan perkantoran dan pemukiman di Banjarbaru, dirancang oleh D.A.W. Van der Peijl.
- 9 Juli 1954, Gubernur K.R.T. Milono mengusulkan kepada pemerintah pusat untuk memindahkan ibukota Provinsi Kalimantan ke Banjarbaru, namun tidak ada realisasi.
- 27 Juli 1964, DPRD-GR Kalimantan Selatan mengeluarkan resolusi agar Banjarbaru ditetapkan sebagai Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan.
- 6 Oktober 1965, Panitia Penuntut Kotamadia Banjarbaru menuntut agar meningkatkan status Banjarbaru menjadi daerah tingkat II/kotapraja dan mendesak direalisirnya kota Banjarbaru menjadi ibukota Provinsi Kalimantan Selatan.
- 12 Oktober 1965, DPRD-GR Tingkat II Banjar di Martapura mendukung desakan direalisirnya kota Banjarbaru menjadi ibukota Provinsi Kalimantan Selatan.
- 17 Agustus 1968, penetapan status Banjarbaru sebagai Kota Administratif.
- 27 April 1999, penetapan status Banjarbaru sebagai Kotamadya.
sumber: http://banjarbarukota.go.id/sejarah-kota-banjarbaru/ (dipetik 29-10-2016 11:46 WITA)

Saturday, October 29, 2016 Wahyudi Ariannor
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
Tugu Bundaran Kota Banjarbaru
Wilayah Banjarbaru sekarang, dulunya adalah perbukitan di pinggiran Kota Martapura yang dikenal dengan nama Gunung Apam. Daerah Gunung Apam dikenal sebagai daerah persitirahatan buruh-buruh penambang intan selepas menambang di Cempaka.
Pada era tahun 1950-an, Gubernur dr. Murdani dibantu seorang perencana Van der Pijl merancang Banjarbaru sebagai Ibukota Provinsi Kalimantan. Namun pada perjalanan selanjutnya, perencanaan ini terhenti sampai pada perubahan status Kota Banjarbaru menjadi Kota Administratif.
Nama banjarbaru sedianya hanyalah nama sementara yang diberikan Gubernur dr. Murjani, untuk membedakan dengan Kota Banjarmasin, yaitu kota baru di Banjar. Namun akhirnya melekat nama Banjarbaru sampai sekarang.
Sebagai kota administratif, Kota Banjarbaru berada dalam lingkungan Kabupaten Banjar, dengan ibukotanya Martapura. Jadi Kota Banjarbaru merupakan pemekaran dari Kabupaten Banjar.
Kota Banjarbaru berdiri berdasarkan Undang-undang (UU) Nomor 9 Tahun 1999. Lahirnya UU tersebut menandai berpisahnya Kota Banjarbaru dari Kabupaten Banjar yang selama ini merupakan daerah administrasi induk. Kota Banjarbaru yang sebelumnya berstatus sebagai Kota Administratif, sempat berpredikat sebagai kota administratif tertua di Indonesia.
Lambang Kota Banjarbaru

Kini, jumlah penduduk di Kota Banjarbaru terus berkembang dengan adanya perpindahan penduduk dari luar Kota Banjarbaru, baik dari Kalimantan sendiri maupun dari luar Kalimantan. Perkembangan penduduk ini beriringan dengan semakin terbukanya wilayah Kota Banjarbaru, baik untuk kawasan permukiman serta Bandar Udara Syamsudin Noor maupun peruntukan yang lain.
- Gunung Apam termasuk wilayah Kampung Guntung Payung, Kampung Jawa, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar.
- 1951, Gubernur dr. Murdjani menyampaikan usulan untuk merancang Gunung Apam menjadi Kota Banjarbaru sebagai calon Ibukota Provinsi Kalimantan.
-1953, pembangunan perkantoran dan pemukiman di Banjarbaru, dirancang oleh D.A.W. Van der Peijl.
- 9 Juli 1954, Gubernur K.R.T. Milono mengusulkan kepada pemerintah pusat untuk memindahkan ibukota Provinsi Kalimantan ke Banjarbaru, namun tidak ada realisasi.
- 27 Juli 1964, DPRD-GR Kalimantan Selatan mengeluarkan resolusi agar Banjarbaru ditetapkan sebagai Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan.
- 6 Oktober 1965, Panitia Penuntut Kotamadia Banjarbaru menuntut agar meningkatkan status Banjarbaru menjadi daerah tingkat II/kotapraja dan mendesak direalisirnya kota Banjarbaru menjadi ibukota Provinsi Kalimantan Selatan.
- 12 Oktober 1965, DPRD-GR Tingkat II Banjar di Martapura mendukung desakan direalisirnya kota Banjarbaru menjadi ibukota Provinsi Kalimantan Selatan.
- 17 Agustus 1968, penetapan status Banjarbaru sebagai Kota Administratif.
- 27 April 1999, penetapan status Banjarbaru sebagai Kotamadya.
sumber: http://banjarbarukota.go.id/sejarah-kota-banjarbaru/ (dipetik 29-10-2016 11:46 WITA)

Friday, 14 October 2016

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
Berdasarkan pengalaman saya, ketika setelah selesai melakukan pendaftaran NPWP secara online pada tahun 2015 di situs resmi pajak https://ereg.pajak.go.id/ ternyata kartu fisik NPWP yang menurut email yang saya terima akan dikirimkan ke alamat saya. Namun setelah menunggu beberapa lama, kartu NPWP belum juga sampai ke alamat saya.
Kemudian saya menanyakan permasalahan tersebut melalui fans page Facebook KPP tempat NPWP saya terdaftar (wilayah Banjarbaru, Kalsel). Alhamdulillah, mereka merespon dengan cepat.
Solusi yang mereka berikan seperti berikut:
"Terimakasih sebelumnya, utk kartu npwp yg blm diterima silahkan langsung ke kpp pratama banjarbaru dengan memperlihatkan ktp dan emailnya. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya".
 Jadi, kesimpulannya jika kartu NPWP kita belum sampai ke alamat kita, cukup datang ke Kantor Pelayanan Pajak di tempat kita. Terima kasih.

Friday, October 14, 2016 Wahyudi Ariannor
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
Berdasarkan pengalaman saya, ketika setelah selesai melakukan pendaftaran NPWP secara online pada tahun 2015 di situs resmi pajak https://ereg.pajak.go.id/ ternyata kartu fisik NPWP yang menurut email yang saya terima akan dikirimkan ke alamat saya. Namun setelah menunggu beberapa lama, kartu NPWP belum juga sampai ke alamat saya.
Kemudian saya menanyakan permasalahan tersebut melalui fans page Facebook KPP tempat NPWP saya terdaftar (wilayah Banjarbaru, Kalsel). Alhamdulillah, mereka merespon dengan cepat.
Solusi yang mereka berikan seperti berikut:
"Terimakasih sebelumnya, utk kartu npwp yg blm diterima silahkan langsung ke kpp pratama banjarbaru dengan memperlihatkan ktp dan emailnya. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya".
 Jadi, kesimpulannya jika kartu NPWP kita belum sampai ke alamat kita, cukup datang ke Kantor Pelayanan Pajak di tempat kita. Terima kasih.